Sabtu, 06 Juni 2009

cerita rakyat jepang ( seibei dan botol labu)

SEIBEI DAN BOTOL LABU

Ringkasan Cerita :

Di sebuah kota kecil dekat pelabuhan terdapatlah seorang anak bernama seibei.Sebei adalah seorang anak berusia 12 tahun yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD).Seibei tinggal dengan orang tuanya tak jauh dari pelabuhan tersebut.Sedari kecil,dia sangat menyukai botol labu.Setiap harinya dia selalu melap botol labunya

Saking senangnya seibei dengan botol labunya,didalam rumah nya terdapat botol labu berkulit sekitar 10 buah dengan harga 3-4 sen adapula yang berharga 15 sen. Sebenarnya Botol labu yang dimilikinya adalah botol labu yang berbentuk biasa, namun sibei sangat menyukainya.

Kecintaan sebei pada botol labunya sangat mendalam,sampai-sampai saat dia tengah berjalan-jalan dipinggir pantai ada seorang kakek-kakek berkepala botak keluar dari kedai yang berjejer dipinggir pantai, seibei menganggap bahwa kakek tersebut adalah botol labu berjalan.Hal tersebut membuat seibei tertawa terbahak-bahak karena imajinasinya sendiri.

Botol labu merupakan barang yang benar-benar seibei sukai ada keasyikan tersendiri yang seibei rasakan ketika dia membuat labu botolnya.Pertama-tama dia akan mengerat bagianlubangnya,mengeluarkan bijinya lalu membuat tutup botolnya.Untuk menghilangkan bau tidak enak dari buah labu ia gunakan ampas teh lalu ia gosok dengan sake sisa ayahnya yang telah dia kumpulkan sebelumnya.Lalu setiap malamnya,ia selalu duduk bersila disudt ruang tengah melap labunya.Selesai melap labunya ,ia masukan sake ke dalamnya,diikatnya dengan handuk kecil dan dimasukannya kedalam kaleng, kemudian dia memanaskannya ditungku pemanas.Esok harinya ,begitu ia bangun,segera ia membuka kaleng melihat labunya.Kini labunya sudah dipenuhi dengan bintik-bintik air.Kemudia dia gantungkan labu itu dengan hati-hati pada palang depan rumah yang terkena sinar matahari lalu pergi sekolah.

Tempat tinggal seibei merupakan kota kecil, jarak ujung ke ujung yang harus ditempuh adalah sekitar 20 menit dengan berjalan kaki.Dikarenakan jarak yang ditempuh cukup jauh maka sambil menyusuri jalan, seibei sering memperhatikan toko-toko yang berjejer menjajakan botol labu. Jika botol labu yang dijualnya cukup menyita perhatian seibei maka dia akan berhenti dan memperhatikannya dengan sungguh-sungguh.Labu yang disukai seibei adalah labu yang masih berkulit dan belum dipotong ujungnya.Seibei lebih memilih berjalan-jalan ke kota untuk melihat labu daripada bermain dengan teman-temannya sepulang dari sekolah.

Saking unik kebiasaan yang seibei lakukan pernah pada suatu sore teman ayah seibei,seorang tukang kayu, bertamu kerumah seibei.Dikarenakan melihat seibei sedang melap labunya dengan sungguh-sungguh,ayah dan tukang kayu itu ikut membahas tentang labu-labu yang dimiliki seibei,bahkan tukang kayu itu memberi masukan agar seibei membeli labu-labu yang bagus seperti labu bakin yang ada pada pameran musim semi,begitu besar dan panjang katanya.Namun seibei tidak menyukai labu bakin itu,baginya labu itu hanya sebuah labu biasa dan tidak menarik.Mendengar perkataan seibei,ayahnya marah dan mengatakan bahwa seibei tidak tahu apa-apa tentang labu dan seharusnya tidak berbicara seperti itu.

Seibei sangat menyukai botol labunya akan tetapi pada suatu hari seibei mengalami kejadian yang membuat seibei menghentikan kesukaannya terhadap botol labunya.Kejadian ini terjadi ketika seibei bertemu dengan seorang nenek penjual barang-barang seperti kesemek kering,jeruk dan macam-macam buah labu sekitar 20 buah di depan sebuah toko tua yang sudah tidak terpakai lagi.Lalu seibei datang mendekat dan berniat melihat-lihat dagangan yang dijajakan nenek tersebut.Seibei melihat deretan buah labu yang dipajang oleh nenek itu dan merasa tertarik untuk membeli salah satunya,maka dia bertanya berapa harga sebuah labunya,nenek itu menjawab karena seibei masih anak-anak maka nenek itu menjual dengan harga 10 sen.Sayangnya waktu itu seibei tidak membawa cukup uang jadi dia berpesan kepada nenek itu untuk tidak menjual labu itu terhadap siapapun sampai dia datang kembali untuk membeli labu itu.Segera seibei berlari kerumahnya untuk mengambil uang dan kembali lagi untuk membeli labu tersebut dengan nafas terengah-engah.

Buah labunya selalu dibawa kemana pun dia pergi, sampai-sampai pergi ke sekolah juga buah labunya turut serta dibawanya.Saat pelajaran etika di kelas, sebei lebih memilih menggosok-gosok labunya daripada memperhatikan gurunya.Gurunya adalah seorang laki-laki yang datang dari daerah lain dan baginya kebiasaan penduduk setempat menyukai labu adalah hal yang tidak menyenangkan.Apabila ada sandiwara di wilayah baru gurunya ini tidak pernah datang karena tidak suka tetapi apabila datang Kumoemon gurunya akan datang untuk menonton pertunjukan itu selama 3 hari dari 4 hari pertunjukan serta gurunya ini adalah seorang yang sangat suka membicarakan cerita-cerita yang menyangkut sikap pahlawan atau heroik Kegiatan seibei sedari tadi menggosok-gosok botol labunya ternyata diperhatikan oleh gurunya, hal tersebut membuat guru seibei marah sekali sampai-sampai dia mengatakan bahwa seibei di masa yang akan datang tidak akan memiliki prospek yang cerah atau berhasil.Lalu gurunya mengambil botol labu yang telah dirawatnya dengan penuh perhatian itu.Tapi seibei sedikit pun tidak menangis, dia berusaha tegar menghadapinya.Sesampainya di rumah wajah seibei sangat pucat lalu dia duduk di perapian dengan wajah murung.Pada saat itu datang guru seibei yang tadi memarahinya dikelas.Beliau menacari ayah seibei berkaitan dengan hal yang di lakukan seibei di kelas tadi siang,akan tetapi ayah seibei belum pulang jadi ibu seibei yang menemui guru tersebut.

Guru seibei menyampaikan apa yang terjadi dikelas etika tadi siang dan dia menyampaikan bahwa seharusnya hal seperti ini merupakan tanggung jawab orang tua di rumah. Mendengar perkataan bapak guru, ibu seibei menjadi sangat malu .Sedangkan seibei segera pergi ke sudut kamarnya sambil gemetaran dan bersedeku, dia takut kalau-kalau gurunya menyadari botol –botol labu yang bergelantungan di tiang dibelakang badan gurunya duduk dan akan dibuang juga. Selesai gurunya memberikan teguran dan ceramah kepada ibu seibei, gurunya pulang tanpa menyadari adanya botol-botol labu yang bergelantungan dibelakangnya, seibei merasa lega akan hal tersebut.

Setelah gurunya pulang, ibu seibei memanggil seibei sambil menangis dia memarahi seibei dan menasehatinya. Tidak berapa lama kemudian datanglah ayah seibei,lalu ibunya bercerita tentang tingkah laku seibei disekolah yang menyebabkan gurunya datang berkunjung ke rumah mereka.Mendengar hal tersebut ayah seibei sangat marah sehingga dia menarik seibei memarahi dan memukulinya sambil berkata kalau dia terus melakukan hal tersebut dia tidak akan memiliki masa depan yang bagus.Ketika ayah seibei menyadarai labu-labu yang bergelantungan di tiang rumahnya dia segera mengambilnya lalu memecahkannya dengan palu.Seibei sangat terkejut dengan hal tersebut sampai-sampai wajahnya pucat.

Bagaimana dengan nasib botol labu seibei yang diambil gurunya ?Karena merasa jijik akan botol labu tersebut dia memberikannya kepada pesuruh sekolah.Lalu oleh pesuruh sekolah,karena tidak punya uang maka dijualnya buah labu itu kepada pemilik toko.Awalnya pemilik toko berniat membeli barang tersebut dengan harga 5 yen tetapi pesuruh sekolah meminta agar harganya dinaikan menjadi 10 yen,ahkirnya terjuallah botol labu itu dengan harga 10 yen.Pemilik toko barang antik itu berpikir kalau-kalau nanti dia bisa menjualnya dengan harga yang lebih mahal lagi .Pada ahkirnya botol labu seibei yang antik itu di jual oleh pemilik toko barng antik kepada orang kaya setempat seharga 600 yen.

Setelah seibei kehilangan botol labunya dia mulai mengalihkan perhatiannya kepada lukisan.Sekarang seibei jadi menyukai lukisan.Rasa benci terhadap gurunya dan ayahnya yang telah menghancurkan 10 botol labu seibei sirna saat dia telah selesai melukis lukisannya.Tetapi seperti biasanya setiap kali seibei menyukai sesuatu dia pasti akan melakukannya sungguh-sungguh bahkan berlebihan sehingga membuat ayahnya menggerutu lagi.

Penulis Cerita : Shiga Naoya

Tema Cerita : Seorang anak yang terlalu mencintai kegemarannya.

Alur Cerita : Mundur

Setting Cerita : Di Kota kecil dekat pelabuhan

Tokoh-tokoh :

§ Seibei

§ Ayah seibei

§ Ibu seibei

§ Bpk.Guru

§ Teman Ayah Seibei (tukang kayu )

§ Nenek penjual labu

§ Penjaga Sekolah

§ Penjaga toko barang antik

§ Orang Kaya pembeli botol labu

Watak tiap tokoh :

* Seibei : Keras kepala,tekun,rajin,kurang memperhatikan orang lain, tidak mudah putus asa, tidak cengeng.

* Ayah seibei : Pemarah, tidak sabaran,berpikirannya terlalu tradisional

* Ibu sebei : Baik hati,penyabar dan penyayang

* Bpk.Guru : Perfeksionis,galak,sombong berpikirannya terlalu tradisional

* Teman ayah : Berpengetahuan luas,suka mengurusi urusan orang lain

* Nenek penjual labu : Baik hati dan ramah

* Penjaga sekolah : Licik dan cerdas

* Penjaga toko barang antik : Licik dan cerdas

* Orang kaya : Baik hati dan pemerhati seni

Nilai moral : Dari cerita ini kita dapat banyak menyimpulkan pesan moral yaitu jika kita menyukai sesuatu jangan terlalu berlebihan.Berawal dari hal yang kecil bisa menjadi sesuatu yang besar dan berarti apabila di lakukan dengan sungguh-sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar